Showing posts with label TIPS BELAJAR - MENGAJAR EFEKTIF. Show all posts
Showing posts with label TIPS BELAJAR - MENGAJAR EFEKTIF. Show all posts

Thursday, October 22, 2015

Waktu / Kesempatan Yang Paling Tepat Untuk Menulis

Sahabat Edukasi yang berbahagia…

Menulis merupakan salah satu aktivitas yang bagi sebagian orang tidaklah mudah, dan bagi sebagian lainnya mudah. 

Hal ini disebabkan karena beberapa faktor, selain dari faktor kebiasaan, hal lain yang mempengaruhinya adalah kurangnya rasa percaya diri, takut tidak ada yang membaca, dan sebagainya.

Akan tetapi pada dasarnya aktivitas menulis idealnya memang dilakukan setelah seseorang tersebut memahami betul tentang apa yang ia tulis.

Pemahaman yang datang dari pengalaman pribadi penulis yang disajikan dalam bentuk tulisan seringkali akan membuahkan kualitas / hasil tulisan yang optimal, seperti halnya jika dicetak menjadi sebuah buku, bukunya pun laris manis, jika pun dipublikasikan secara online, pembacanya pun banyak, dan sebagainya. 

Namun ini juga bukan merupakan indikator mutlak, karena sesungguhnya tulisan yang baik itu memiliki efektivitas yang baik juga seperti dapat bermanfaat positif bagi penulis juga pembacanya.

Kembali ke tema Sobat… Tulisan ini saya publish untuk melengkapi postingan saya pada waktu sebelumnya tentang Cara Menulis yang Berkualitas, dalam kesempatan kali ini saya akan bagikan tips kapan sih waktu-waktu yang tepat untuk menulis itu? Bukan hanya menulis dalam bentuk buku, akan tetapi juga menulis melalui papan ketik komputer tentunya.

Berikut adalah waktu-waktu yang paling tepat untuk melakukan aktivitas menulis, agar kualitas tulisan lebih optimal, di antaranya adalah sebagai berikut :

1.   Di tengah malam, setelah anggota keluarga lainnya tidur.

Pada saat anggota keluarga Anda telah tertidur, maka Anda akan lebih fokus / konsentrasi dalam menulis sesuatu ide / pokok bahasan /tema.

2.   Saat sendiri.

Bandingkan jika Anda menulis bersama seorang teman, bukan menulis jadinya, tapi malah berdialog… J. Ada juga kok kalimat bijak mengatakan : “Sendiri itu sekolahnya jenius”.

3.   Ketika ada sesuatu hal yang penting untuk diketahui orang lain.

Jika Anda merasa memahami sesuatu yang cenderung unik dan menarik ataupun mengetahui suatu informasi penting yang perlu diketahui oleh khalayak umum. Jangan ragu menulislah semampu Anda. Intinya sesuatu itu bermanfaa positif, bisa berupa tutorial, penemuan ilmiah, tips-tips dan lain sebagainya.

4.   Sewaktu ada ide cemerlang yang terlintas.

Saat dalam pikiran Anda terlintas ide yang cemerlang, silahkan dikembangkan menjadi suatu ide yang terealisasi setidaknya dalam konsep tulisan terlebih dahulu. Setelah sistematika tulisan utama Anda terbentuk silahkan dikembangkan dengan bahasa yang lugas dan runtut.

5.   Di kala waktu senggang / hari libur.

Waktu senggang bisa saat istirahat dari pekerjaan, hari libur, cuti, dan sebagainya. Intinya dalam setiap waktu senggang itu pikiran kita lebih rileks dan santai, sehingga produktivitas dalam melahirkan karya akan lebih optimal.

Dengan memanfaatkan waktu yang tepat, terus menulis dan menulislah Sobat…! Kebiasaan menulis sama halnya dengan membaca di mana diperlukan fokus / konsentrasi khususnya dalam menyusun kata demi kata, kalimat demi kalimat, hingga dari paragraf demi paragraf agar karya tulis yang disajikan dapat dipahami secara komprehensif (menyeluruh) oleh sekalian pembacanya.

Dan yang perlu diperhatikan dalam menulis adalah tata bahasa, cara penulisan, kosa kata, penggunaan istilah yang tepat, dan sebagainya sesuai dengan aturan yang semestinya. Akan tetapi ini juga bisa didapat dengan sendirinya, terus menulis dan juga terus memperdalam kembali pelajaran bahasa Indonesia yang sudah kita pelajari semenjak duduk di bangku SD. Semoga bermanfaat dan terimakasih… Salam Edukasi…!

Saturday, August 8, 2015

Guru Bisa Jadikan Permainan Tradisional Sebagai Alat / Media Pembelajaran Efektif Di Sekolah

Sahabat Edukasi yang berbahagia…

Indonesia yang memiliki letak geografis sangat luas dan terdiri dari berbagai macam suku bangsa, berkembang pula berbagai macam permainan tradisional.

Permainan tradisional ada yang bersifat kompetisi, ada pula yang sekedar rekreasi. Namun di balik itu, tersimpan juga nilai-nilai positif yang terkandung dalam setiap permainan, khususnya nilai-nilai pendidikan karakter.

Karena itulah permainan tradisional juga cocok diterapkan para guru di sekolah dalam kegiatan belajar mengajar. Hal tersebut mengemuka dalam Workshop Permainan Tradisional untuk Guru dan Orang Tua Siswa di Lawang Sewu, Semarang, Jawa Tengah, pada Sabtu pagi, (8/8/2015).

Workshop ini digelar bersamaan dengan Pameran Permainan Tradisional di salah satu gedung di Lawang Sewu sebegai rangkaian penyelenggaraan Pekan Budaya Indonesia 2015. Peneliti permainan tradisional dari Komunitas Hong, Zaini Ali mengatakan aplikasi permainan tradisional di sekolah tidak memerlukan waktu atau mata pelajaran khusus.

Yang paling penting adalah bagaimana guru-guru bisa diajak berkreasi dan menggunakan permainan tradisional sebagai media penyampai suatu mata pelajaran. "Misalnya pelajaran olahraga. Mengapa harus selalu bermain bola? Mengapa (bentuknya) harus olahraga?

Mengapa anak-anak tidak diajak main dulu permainan tradisional atau olahraga tradisional supaya mengenal. Jadi mainan dijadikan sebagai alat, sebagai media, bukan masuk sebagai materi. Anak-anak diajak bermain. Misalnya matematik diselingi permainan berhitung dulu. Pelajaran agama misalnya, bagaimana mengajarkan nilai-nilai agama dalam permainan tradisional. Mengajarkan konsep taat, di mana permainan tradisional juga ada aturannya," urai Zaini usai menjadi narasumber dalam workshop.

Salah satu peserta workshop, guru dari SD Telogosari Kulon 4 Kota Semarang, Muhdor, mengakui permainan tradisional sangat bagus diterapkan di sekolah karena ada pembentukan karakter. Namun aplikasi permainan tradisional dalam kegiatan belajar mengajar harus dilakukan secara konsisten. "Permainan tradisional itu sangat tergantung pada gurunya. Kalau dimasukkan ke dalam pembelajaran untuk jadi semacam pemanasan bisa saja untuk membangkitkan pembelajaran inti nanti”.

Kalau dititipkan pada guru olahraga juga sangat bagus sekali," katanya. Komunitas Hong sebagai salah satu komunitas permainan tradisional aktif bermitra dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dalam menyosialisasikan permainan tradisional di berbagai kesempatan. Zaini mengatakan, sosialisasi permainan tradisional ke masyarakat harus melibatkan banyak pihak. Ia mengakui, selama ini Kemendikbud sangat terbuka dalam membantu penyebarluasan informasi dan sosialisasi permainan tradisional di berbagai daerah melalui pameran, workshop dan seminar.

"Harapan saya nanti Kemendikbud bisa bikin program lain yang aplikatif. Artinya mereka (anak-anak) sudah dikenalkan (permainan tradisional), sudah tertarik, kemudian bagaimana aplikasinya di kelas. Misalnya agar mereka diajak bermain sebelum pelajaran dimulai, diajarkan ke alam, atau berhitung melalui permainan. Karena dunia anak-anak adalah dunia bermain. Tidak lepas dari itu," tuturnya. (Desliana Maulipaksi)

Friday, July 10, 2015

Siswa / Peserta Didik Wajib Baca Buku 15 Menit Sebelum Waktu Belajar Dimulai di Sekolah

Sahabat Edukasi yang berbahagia…

Jika diibaratkan buku adalah jendela dunia, maka membaca adalah kuncinya. Dan bagi setiap pembaca buku, tentu akan memiliki beberapa dampak positif khususnya dalam meningkatkan sumber daya manusia setiap pembacanya.

Aktivitas membaca juga menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan wawasan sekaligus kedewasaan seseorang. Akan tetapi selektif dalam membaca, khususnya membaca buku yang positif tentunya.

Dalam dunia pendidikan pun berlaku hal yang sama, di mana kebiasaan membaca perlu senantiasa ditingkatkan bagi seluruh siswa/siswi kita dalam rangka meningkatkan pengusaan materi pembelajaran hingga dapat menunjang dalam penguasaan materi pengayaan bagi mereka sampai dengan pembentukan karakter positif peserta didik dengan kebiasaan membaca ini.

Salah satu faktor penting kemajuan negara Jepang adalah adanya kebiasaan membaca, selengkapnya silahkan dibaca pada links artikel berikut : Kebiasaan-kebiasaan Positif Bangsa Jepang Sehingga Negara Mereka Maju Pesat

Sehubungan dengan hal tersebut, berikut share himbauan Mendikbud tentang siswa wajib baca buku 15 menit sebelum waktu belajar dimulai dari situs Ditjen Dikdas Kemdikbud selengkapnya :

Salah satu kewajiban yang baik diterapkan di sekolah adalah membiasakan siswa membaca buku. Hal itu bisa dilakukan pada 15 menit pertama sebelum hari pembelajaran di mulai.

“Buku apapun yang layak dibaca anak-anak. Silakan mereka pilih sendiri bukunya,” ujar Anies Baswedan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, saat menyampaikan sambutan pada Rapat Koordinasi Penumbuhan Budi Pekerti di Gedung Ki Hadjar Dewantara lantai III Kompleks Kemendikbud, Senayan, Jakarta, Jumat, 10 Juli 2015.

Anies ingin siswa dibebaskan untuk memilih buku yang ingin dibacanya. Mereka jangan dipaksa untuk membaca buku yang tak sesuai dengan minatnya. Guru dapat mengajak mereka ke perpustakaan, meminjamnya, dan mengembalikannya ke tempat semula.

Upaya ini dilakukan, tambahnya, lantaran minat baca masyarakat Indonesia sangat rendah. “Indonesia adalah salah satu negara dengan tingkat minta baca paling rendah di dunia. Kenapa? Karena kita sama-sama tidak suka membaca,” tegas Anies. Dengan membiasakan siswa membaca, diharapkan lambat laun minat baca masyarakat Indonesia meningkat.

Dalam kesempatan itu, Anies juga mengimbau agar peringatan hari besar nasional tak sebatas upacara. Satu atau dua hari sebelum hari peringatan, sedianya guru membicarakan tentang hari besar itu dengan siswa. Dalam diskusi tersebut guru memberi perspektif baru mengenai makna melakukan peringatan. “Meskipun buku sejarah sudah menuliskan, tetapi kita jadikan sebagai antisipasi sama-sama,” ucapnya.* (Billy Antoro)

Monday, June 29, 2015

Pentingnya Sarana dan Sumber Belajar Dalam Proses Pembelajaran

Sahabat Edukasi yang berbahagia…

Dalam proses belajar mengajar, sarana pembelajaran sangat membantu siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran.Sarana berfungsi memudahkan terjadinya proses pembelajaran. Sementara itu, sumber belajar adalah segala sesuatu yang dapat dijadikan sumber dalam proses belajar mengajar.

Sumber belajar yang utama bagi guru adalah sarana cetak, seperti buku, brosur, majalah, poster, lembar informasi lepas, peta, foto, dan lingkungan sekitar, baik alam, sistem ataupun budaya.

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam memilih sarana adalah :

(1)  menarik perhatian dan minat siswa;
(2)  meletakkan dasar-dasar untuk memahami sesuatu hal secara konkret dan sekaligus mencegah atau mengurangi verbalisme;
(3)  merangsang tumbuhnya pengertian dan usaha pengembangan nilai-nilai;
(4)  berguna dan multifungsi;
(5)  sederhana, mudah digunakan dan dirawat, dapat dibuat sendiri pleh guru atau diambil dari lingkungan sekitar.

Sementara itu, dasar pertimbangan untuk memilih dan menetapkan media pelajaran yang seharusnya digunakan adalah :

(1)  tingkat kematangan berpikir dan usia siswa;
(2)  kesesuaian dengan materi pelajaran;
(3)  keterampilan guru dalam memanfaatkan media;
(4)  mutu teknis dan media yang bersangkutan;
(5)  tingkat kesulitan dan konsep pelajaran;
(6)  alokasi waktu yang tersedia;
(7)  pendekatan atau strategi yang digunakan;
(8)  penilaian yang akan diterapkan.

Demikian beberapa hal penting terkait sarana dan sumber pembelajaran dalam proses belajar mengajar. Semoga bermanfaat dan terimakasih… Salam Edukasi…!

Langkah-Langkah / Cara Mengembangkan Kegiatan Pembelajaran

Sahabat Edukasi yang berbahagia…

Sebagaimana telah diketahui bersama dalam dunia pendidikan bahwasannya kegiatan pembelajaran dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang melibatkan proses mental dan fisik melalui interaksi antarpeserta didik, peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya dalam rangka pencapaian kompetensi dasar. 

Pengalaman belajar yang dimaksud dapat terwujud melalui penggunaan pendekatan pembelajaran yang bervariasi dan berpusat pada peserta didik. Pengalaman belajar memuat kecakapan hidup yang perlu dikuasai peserta didik.

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam mengembangkan kegiatan pembelajaran adalah sebagai berikut :

a.   Kegiatan pembelajaran disusun untuk memberikan bantuan kepada para pendidik, khususnya guru, agar dapat melaksanakan proses pembelajaran secara profesional.
b.   Kegiatan pembelajaran memuat rangkaian kegiatan yang harus dilakukan oleh peserta didik secara berurutan untuk mencapai kompetensi dasar.
c.   Penentuan urutan kegiatan pembelajaran harus sesuai dengan hierarki konsep materi pembelajaran.
d.   Rumusan pernyataan dalam kegiatan pembelajaran minimal mengandung dua unsur penciri yang mencerminkan pengelolaan pengalaman belajar siswa, yaitu kegiatan siswa dan materi.
   
1. Merumuskan Indikator Pencapaian Kompetensi

Indikator merupakan penanda pencapaian kompetensi dasar yang ditandai oleh perubahan perilaku yang dapat diukur yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan.

Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik, mata pelajaran, satuan pendidikan, potensi daerah dan dirumuskan dalam kata kerja operasional yang terukur dan/atau dapat diobservasi. Indikator digunakan sebagai dasar untuk menyusun alat penilaian.

2. Menentukan Jenis Penilaian

Penilaian pencapaian kompetensi dasar peserta didik dilakukan berdasarkan indikator. Penilaian dilakukan dengan menggunakan tes dan non tes dalam bentuk tertulis maupun lisan, pengamatan kinerja, pengukuran sikap, penilaian hasil karya berupa tugas, proyek dan/atau produk, penggunaan portofolio, dan penilaian diri.

Penilaian merupakan serangkaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis, dan menafsirkan data tentang proses dan hasil belajar peserta didik yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan, sehingga menjadi informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penilaian, di antaranya :

a.   Penilaian diarahkan untuk mengukur pencapaian kompetensi.
b.   Penilaian menggunakan acuan kriteria; yaitu berdasarkan apa yang bisa dilakukan peserta didik setelah mengikuti proses pembelajaran, dan bukan untuk menentukan posisi seseorang terhadap kelompoknya.
c.   Sistem yang direncanakan adalah sistem penilaian yang berkelanjutan. Berkelanjutan dalam arti semua indikator ditagih, kemudian hasilnya dianalisis untuk menentukan kompetensi dasar yang telah dimiliki dan yang belum, serta untuk mengetahui kesulitan siswa.
d.   Hasil penilaian dianalisis untuk menentukan tindak lanjut. Tindak lanjut berupa perbaikan proses pembelajaran berikutnya, program remedi bagi peserta didik yang pencapaian kompetensinya di bawah kriteria ketuntasan, dan program pengayaan bagi peserta didik yang telah memenuhi kriteria ketuntasan.
e.   Sistem penilaian harus disesuaikan dengan pengalaman belajar yang ditempuh dalam proses pembelajaran. Misalnya, jika pembelajaran menggunakan pendekatan tugas observasi lapangan maka evaluasi harus diberikan baik pada proses (keterampilan proses) misalnya teknik wawancara, maupun produk/hasil melakukan observasi lapangan yang berupa informasi yang dibutuhkan.

3. Menentukan Alokasi Waktu

Penentuan alokasi waktu pada setiap kompetensi dasar didasarkan pada jumlah minggu efektif dan alokasi waktu mata pelajaran per minggu dengan mempertimbangkan jumlah kompetensi dasar, keluasan, kedalaman, tingkat kesulitan, dan tingkat kepentingan kompetensi dasar.  Alokasi waktu yang dicantumkan dalam silabus merupakan perkiraan waktu rerata untuk menguasai kompetensi dasar yang dibutuhkan oleh peserta didik yang beragam.

4. Menentukan Sumber Belajar

Sumber belajar adalah rujukan, objek dan/atau bahan yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran, yang berupa media cetak dan elektronik, narasumber, serta lingkungan fisik, alam, sosial, dan budaya.

Penentuan sumber belajar didasarkan pada standar kompetensi dan kompetensi dasar serta materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi.

Demikian beberapa hal ataupun langkah-langkah sebagai cara untuk mengembangkan kegiatan pembelajaran. Semoga bermanfaat dan terimakasih… Salam Edukasi…!

Wednesday, May 20, 2015

Dampak Buruk dan Pengaruh Negatif Menyontek Saat Ujian / Tes Tulis

Sahabat Edukasi yang berbahagia…

Dalam mengerjakan tes / ujian tulis baik di sekolah, kebiasaan mencontek tentunya tidak baik, bukan hanya karena selain tidak jujur, tentu akan merugikan diri-sendiri, dan dampaknya memang tidak sekonyong-konyong terlihat pada saat itu, akan tetapi di kemudian hari / masa depan.

Lalu, apa saja kerugian yang ditimbulkan dengan adanya kebiasaan mencontek dalam ujian ini. Berikut 5 kerugian dari kebiasaan menyontek saat mengerjakan tes / ujian :

1. Tidak bisa mengukur kemampuan diri-sendiri

Dengan mencontek, tentu saja prosesnya hanya menyalin sesuatu dari sumber ke tujuan (lembar jawaban) bukan? Dan dalam proses ini, tentu saja sumber daya yang diupayakan tidak optimal. Berbeda halnya dengan mengerjakan sebisanya dan setahunya, maka kita pun akan tahu sampai di mana kemampuan kita dalam menguasai sebuah materi pelajaran tersebut, sehingga setelah ujian berlangsung, maka kita pun dapat mempelajari / memperdalam kembali suatu hal yang diujikan tersebut untuk menjawab “penasaran-penasaran” yang didapat saat kesulitan/ragu ketika ujian.

2. Menambah kemalasan untuk belajar

Kebiasaan mencontek akan berdampak pada kemalasan untuk belajar, cenderung tidak mau repot-repot dan pusing dalam belajar. Ingat belajar itu adalah proses berusaha (berlatih) untuk memperoleh kepandaian atau ilmu sehingga dapat merubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman yang sudah dipahami.

3. Kepercayaan diri semakin berkurang

Kebiasaan mencontek pun lama-kelamaan akan dapat mengurangi rasa kepercayaan pada kemampuan diri-sendiri, padahal khan setiap manusia dipastikan memiliki keunikan, kelebihan, ataupun potensi yang luar biasa dari Allah SWT.

4. Nilai yang didapatkan tidak objektif

Dengan mencontek pun tidak menutup kemungkinan nilai yang didapatkan yang seharusnya bisa lebih baik jika tidak mencontek, akan tetapi dikarenakan mencontek, maka nilai pun dipertaruhkan sama persis dengan kemampuan teman lain yang diconteknya tadi. Merugikan bukan?

5. Mengurangi daya kreatifitas

Dikarenakan kebiasaan meniru yang terus-menerus dilakukan, maka kepekaan untuk menciptakan sesuatu pun semakin memudar. Yang paling berbahaya lagi ketika kebiasaan mencontek ini mematikan kreatifitas (daya cipta) itu sendiri. Rugi khan?

Dan tentunya masih banyak dampak negatif lain yang timbul dari kebiasaan mencontek ini. Maka hindari mencontek saat ujian mulai saat ini, jadilah pembelajar sejati yang menjunjung tinggi nilai kejujuran dan sportifitas yang percaya pada kemampuan dan potensi diri yang sudah dianugerahkan oleh Allah SWT yang tentunya unik antara satu dengan yang lainnya. Insya Allah Anda akan sukses hidup di masa depan berdasarkan bakat, minat, yang terus dikembangkan pada bidang Anda masing-masing. Aamiin… Salam Edukasi…!

Monday, May 18, 2015

Menerapkan Proses Belajar Mengajar di Sekolah Menyenangkan yang dimulai dari Guru dan Kepala Sekolah

Sahabat Edukasi yang berbahagia…

Sekolah yang menyenangkan bagi peserta didik dipastikan akan dapat menjadikan pembelajaran yang berlangsung di sekolah tersebut lebih efektif. Karena dengan suasana pembelajaran yang menyenangkan, peserta didik dapat menikmati setiap sesi pembelajaran sehingga hasil akhirnya adalah pemahaman yang mendalam bagi mereka, menjadi pengalaman yang tak terlupakan, dan pada akhirnya mereka nantinya akan dapat mengimplementasikan nilai-nilai kebaikan ilmu maupun keterampilan yang telah mereka dapatkan itu dalam kehidupan sehari-hari.

Sekolah merupakan tempat terjadinya proses belajar mengajar. Dalam proses belajar mengajar ini, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan mengajak kepada seluruh lembaga pendidikan untuk menjadikan sekolah sebagai tempat yang menyenangkan. Hal tersebut seperti yang dituliskan oleh Bapak Pendidikan Nasional Ki Hadjar Dewantara, dalam konsep yang telah dibuat untuk menjadikan sekolah sebagai taman

"Taman ini adalah tempat yang menyenangkan. Untuk itu, inilah yang diharapkan menjadikan sekolah sebagai tempat belajar yang menyenangkan," demikian disampaikan Mendikbud pada acara bincang-bincang bersama Ikatan Guru Indonesia (IGI) dan Media Massa wilayah Sulawesi Selatan, di Kota Makassar, Sabtu (16/05/2015). 

Konsep sekolah menyenangkan ini, kata Mendikbud, dimulai dari peran guru dan kepala sekolah. Dengan begitu, konsep sekolah menyenangkan tidak boleh diasosiasikan dengan tempat pembelajaran yang mewah dan mahal. Suasana menyenangkan dapat muncul ketika seorang pendidik dapat membawakan suasana belajar yang tidak menegangkan, dan menerapkan berbagai pola pembelajaran yang menyenangkan. 

"Jika guru dan kepala sekolahnya tidak menyenangkan, jangan harap sekolah bisa menjadi tempat belajar yang menyenangkan. Untuk itu mari kita lakukan hal yang berbeda," ajak Mendikbud. 

Pendidik dapat menanyakan kepada siswa, pola pembelajaran seperti apa yang diharapkan. Dengan adanya keterlibatan siswa ini, Mendikbud mengatakan, suasana pembelajaran di sekolah akan lebih kondusif. Bila siswa merasakan nyaman dalam proses belajar di sekolah, Mendikbud meyakini prestasi para siswa tersebut akan lebih meningkat. 

"Tidak boleh terlupakan, selain sekolah juga sebagai tempat belajar yang menyenangkan, juga sekolah harus dapat menunjukan sebagai tempat belajar yang berintegritas. Guru dan kepala sekolah dapat menjadi teladan bagi para siswa," pesan Mendikbud. (Seno Hartono)

Tuesday, May 5, 2015

Kebiasaan-Kebiasaan Positif Bagi Siswa Aktif dan Kreatif

Sahabat Edukasi yang berbahagia…

Ketika sudah lulus sekolah/madrasah bahkan sudah lulus perguruan tinggi seringkali ditemukan penyesalan, mengapa dulu ketika masih menempuh pendidikan dulu kok tidak rajin belajar, bahkan seringkali malas-malasan.

Tentu saja ini penulis pun mengalami hal yang sama, ketika saat ini dalam pendidikan mulai dari SMA pada khususnya entah kenapa, belajarnya kurang semangat. Seandainya dulu ketika sekolah lebih rajin belajar tentu saja akan sangat mempengaruhi kompetensi diri pada saat ini.

Hal ini tentu menjadi peringatan bagi peserta didik yang masih aktif sampai sekarang akan pentingnya belajar maksimal, karena memang usia sekolah (usia muda) adalah kesempatan emas untuk belajar bukan hanya mengukir prestasi tapi lebih dari itu, yakni “mengukir diri” mulai dari sumber daya manusia (SDM) hingga karakter / kepribadian untuk bekal berharga untuk menyongsong masa depan cemerlang.

Seperti kalimat bijak, belajar di masa tua seperti menulis di atas air, sedangkan belajar di masa muda seperti mengukir di batu. Ini berarti di masa tua seiring dengan semakin bertambahnya tanggung jawab untuk mencari nafkah dalam menghidupi keluarga, anak dan isteri dan tentu saja waktu luang akan jauh berbeda dengan di saat sekolah bukan? Lain halnya di masa-masa sekolah sangat jarang sekali orang tua yang membiarkan anaknya untuk bekerja, kecuali pekerjaan-pekerjaan ringan ataupun pekerjaan-pekerjaan di rumah saja, namun pada umumnya orang tua itu selalu mengarahkan anaknya untuk belajar di setiap harinya bukan hanya di sekolah, namun juga di rumah.

Berdasarkan pengalaman selama ini, baik dari diri sendiri dan pengamatan saya pada beberapa rekan yang sukses belajar hingga karier pekerjaannya saat ini, ada beberapa kebiasaan-kebiasaan positif bagi siswa aktif dan kreatif  di antaranya:

1.   Belajar tak perlu jadwal khusus, bahkan di hari libur pun jika ditemukan sesuatu yang sekiranya belum dipahami, ia akan mencari jawabannya, tak ada jadwal tapi setiap hari belajar, dan tak ada hari libur dalam belajar itu.

2.   Memiliki hobi membaca, bukan hanya buku pelajaran dan buku penunjangan pembelajaran, namun juga buku pengembangan diri, majalah, koran, dan media lain yang sekiranya bermanfaat ia baca dan mencoba memahaminya.

3.   Tidak membatasi diri dalam mendalami satu cabang / bidang studi keilmuan, ia tahu semua cabang keilmuan itu saling ada keterkaitan antara satu dan lainnya.

4.   Mempunyai keberanian untuk bertanyapada guru, orang tua, lingkungan terdekat, hingga mencari jawabannya di internet.

5.   Berpikir kritis dan analistis, di mana sesuatu pembelajaran ataupun informasi tidak langsung mentah-mentah ditelan akan tetapi dipertimbangkan sedemikian rupa sehingga informasi itu akan dapat ditarik kesimpulan yang dapat dipertanggungjawabkan.

6.   Beraktifitas mandiri (proaktif), tanpa menunggu perintah dari gurunya, jika memang itu merupakan tugas, ia akan proaktif mengerjakannya. Di rumah pun demikian, ia selalu menyenangkan orang tuanya, apapun yang bisa ia bantu, ia lakukan, dan ia tahu “apa yang orang tua mau”.

7.   Terbuka pada teman sejawat, mau sharing ilmu pengetahuan yang telah ia pahami dan mau menerima kritikan dan saran dari siapapun yang sekiranya dapat memperbaiki apapun yang ada pada dirinya.

Selain beberapa hal di atas kebiasaan positif bagi siswa aktif dan kreatif tentu saja masih ada kebiasaan lain yang sangat bermanfaat bukan hanya pada dirinya namun juga bermanfaat bagi yang lainnya. Ingat salah satu ciri dari kecerdasan adalah mampu menggunakan peluang/kesempatan untuk melakukan hal yang tidak mungkin dilakukan di waktu-waktu berikutnya, dan kesempatan yang sama tidak akan mungkin terulang kembali.

Tuesday, April 21, 2015

Metode Pembelajaran Yang Paling Efektif Adalah Keteladanan

Sahabat Edukasi yang berbahagia…

Dengan metode pembelajaran apapun tanpa keteladanan dari sang pembimbing itu seperti halnya memindahkan beban kepada anak.

Ini tentu tidak diinginkan dalam setiap proses pembelajaran, baik di rumah terlebih di sekolah. Pembelajaran memang pada mulanya disampaikan secara teoritis, analisis, hingga praktis. Praktis bukan berarti simpel atau apa adanya, akan tetapi praktis yang berarti aplikatif dan implementatif dalam kehidupan nyata sehari-hari.

Ketika proses belajar seorang anak didasarkan pada teori dan analisis semata, maka kemungkinan besar tujuan pembentukan karakter yang dijadikan tujuan akhir dari suatu pembelajaran tersebut akan kandas. 

Akan tetapi, ketika keteladanan yang dapat didengar dan dilihat langsung oleh anak jelas efektifitasnya akan lebih daripada arahan ataupun nasehat belaka.

Seperti halnya orang tua yang memberikan anak contoh tegas, maka anaknya pun akan menjadi orang yang tegas. Sehingga tak heran jika ditemui banyak orang besar dan sukses dalam kariernya tak jauh bidangnya dari apa yang telah mereka teladani dari orang tuanya bahkan tak hanya itu, karakternya pun cenderung identik, dan tentu saja ini bukan semata karena identiknya DNA semata, akan tetapi lebih daripada itu, yakni contoh-contoh yang nyata.

Dalam ajaran agama pun telah mengajarkan betapa pentingnya keteladanan-keteladanan yang nyata itu ada pada seluruh Rosul pilihan-Nya untuk dianut oleh seluruh umat-umat-Nya. Maka, menurut hemat saya tak ada metode pembelajaran yang paling efektif kecuali keteladanan itu sendiri. Dan tentunya metode keteladan ini akan menjadi metode pembelajaran yang paling efektif sepanjang masa. Semoga bermanfaat dan terimakasih… Salam Edukasi...!